Tradisi Telur Merah

Tradisi Telur Merah      Saat menerima bingkisan satu bulan bayi yang baru lahir, seringkali kita menemukan telur merah. Mungkin, beberapa diantara kita bertanya, mengapa diberi telur merah? Mengapa tidak apel merah? Atau telur hijau? Tahukah Anda mengenai tradisi telur merah tersebut?

      Tradisi ini berasal dari kebudayaan masyarakat Tionghua. Dahulu kala, sebelum ilmu medis modern masuk ke daerah Cina, tingkat kematian bayi sangatlah tinggi. Maka itu, apabila bayi mampu memasuki usia satu bulan, orang tua si bayi akan mengadakan jamuan makan di rumah mereka dan merayakannya dengan membagi-bagikan telur merah bagi tamu-tamu yang hadir. Jika si bayi laki-laki maka telur yang diberikan akan berjumlah ganjil, sementara genap apabila anaknya perempuan.

 

      Telur melambangkan sebuah kehidupan dan merah bagi orang Cina merupakan warna keberuntungan, jadi telur merah mensimbolisasi kehidupan si bayi yang beruntung kelak. Dalam perayaan itu pula, nama si bayi akan diumumkan dan juga si ibu boleh kembali bertemu dengan orang-orang diluar rumah. Masyarakat Cina percaya bahwa setelah melahirkan, selama satu bulan, si ibu harus beristirahat total untuk memulihkan kesehatannya. Maka itu, ia tidak boleh keluar dari rumah agar tidak terkena kuman atau penyakit dari luar. Selain itu, untuk memulihkan kondisi tubuhnya, si ibu juga mengkonsumsi makanan dan obat tradisional Cina seperti ayam arak, atau kaldu kaki babi.

      Tradisi pembagian telur merah banyak diadaptasi di Indonesia. Selain karena alasan historis, pembagian telur merah juga merupakan ajang untuk memperkenalkan sang bayi kepada kerabat orang tua. Maka itu, telur merah pun sering disertai dengan bingkisan makanan. Di sisi lain, bingkisan makanan biasanya sesuai dengan perkembangan jaman. Dulu, telur merah diberikan dengan nasi kuning dan ayam goreng yang melambangakan ucapan syukur, dan juga kueku, kue berbentuk kura-kura berwarna merah yang melambangkan panjang umur. Saat ini, simbolis dirasa sudah tidak menjadi yang utama sehingga pemilihan makanan lebih mengutamakan selera maka itu seringkali makanan yang dipilih adalah kue tart, cup cakes, atau bingkisan kue kering lainnya.

      Tak hanya tradisi telur merah yang berkembang di Indonesia, tradisi mencukur rambut juga berkembang bagi bayi berumur satu bulan. Bagi agama Hindu, mencukur rambut, yang diberi nama upacara Mundan merupakan upacara penyucian. Bagi masyarakat Tionghua, dikenal dengan nama Mun Yuet, dengan harapan karma buruk dari reinkarnasi masa lampau tidak ikut terbawa di kehidupan bayi yang sekarang.dan bayi bertumbuh sebagai orang baik untuk saat ini dan nanti.